Alas Kedaton

Hasil gambar untuk alas kedatonAlas Kedaton merupakan obyek wisata alam berupa kawasan hutan lindung dengan luas sekitar 12 hektar dan di tengah hutannya terdapat Pura Dalem Kahyangan Kedaton. Kawasan hutan lindung ini juga dihuni oleh ratusan kera (macaca fascicularis) dan kalong (pteropus vampyrus) yang bergelayutan di dahan-dahan pohon. Alas Kedaton berada di desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, berjarak sekitar 35 km atau sekitar satu jam dari ibukota Denpasar. Alas Kedaton ditumbuhi sekitar 24 jenis tumbuh-tumbuhan yang diantaranya adalah pohon Dau, Mahoni, Kayu Adeng, Klampuak, dll. Pada sudut tenggara hutan ini terdapat sebidang tanah yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tempat kuburan kera. (pernah diteliti oleh Tim Peneliti Arkeologi Universitas Udayana, hasilnya tidak ditemukan bukti adanya tulang-tulang kera). Untuk menuju kawasan ini sangat mudah, di ujung selatan desa Kukuh membelok ke arah timur dan jalan raya yang menghubungkan ke lokasi ini cukup baik.

Menurut data arkeologis, pura Alas Kedaton ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha semasa pemerintahan raja Sri Masuli, yang memerintah pada tahun 1100 Saka (tahun 1178). Pada saat itu beliau menjabat sebagai salah satu lembaga penasehat kerajaan. Peninggalan arkeologinya terdiri dari peninggalan zaman pra sejarah dan peninggalan setelah pengaruh Hindu. Peninggalan pra sejarah antara lain berupa menhir kecil, yaitu susunan batu kali dan arca primitif. Bukti peninggalan pengaruh Hindu adalah terdapatnya sebuah Lingga Semu dalam sebuah meru yang disebut Dalem Kahyangan, sebuah arca Durgha Mahisasuramardini dan sebuah arca Ganesha di dalam sebuah meru yang disebut Dalem Kedaton. Arca Ganesha yang duduk di atas bantalan yang terdiri dari 2 ekor kuda dan ditafsirkan sebagai sebuah Candra Sengkala yang berbunyi “Dwi Naga Gana Tunggal“, yang berarti tahun 1582 Saka (tahun 1760).

Pura Dalem Kahyangan Kedaton atau Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura besar yang sangat unik karena memiliki 4 buah pintu masuk pada setiap sisi pura dan bentuk bangunannya terkesan kuno dengan arsitektur sederhana. Dan bagi yang ingin melakukan sembahyang / pemujaan di pura ini, tidak diperkenankan membawa dupa (api) karena menurut adat setempat, ketiadaan api ini berarti sifat amarah atau hawa nafsu yang telah padam. Pura ini menghadap ke arah barat dan memiliki struktur yang unik serta berbeda dengan struktur pura-pura lain yaitu pada bagian halaman dalam (utamaning mandala) yang merupakan halaman tersuci lebih rendah dari halaman tengah (madyaning mandala). Hari jadi atau piodalan pura ini diselenggarakan setiap 6 bulan sekali (210 hari), yaitu pada hari Selasa Kliwon Wuku Medangsia. Dalam penyelenggaraan upacaranya dilakukan pada tengah hari dan selesai sebelum matahari terbenam. Selain itu tidak boleh mempergunakan dupa (api), tidak memakai penjor, segehan, dan tabuh rah.

Pada saat memasuki Alas Kedaton, setiap pengunjung akan disambut oleh ratusan kera, yang kadang kala mendekati atau menghampiri pengunjung. Hal ini menjadi suatu atraksi yang mengundang kelucuan karena tingkah laku kera-kera di Alas Kedaton, yang telah berteman dengan manusia sejak dahulu sehingga jinak terhadap setiap pengunjung. Hanya saja, jangan sampai mengganggu atau menyakiti kera-kera tersebut karena hutan dan populasi lainnya yang berada di kawasan hutan lindung Alas Kedaton oleh masyarakat setempat dikeramatkan dan dianggap milik dewa.

Untuk berkeliling di kawasan obyek wisata Alas Kedaton, wisatawan akan diantar oleh Ibu-ibu sebagai local guidenya. Mereka adalah para pedagang yang memiliki toko souvenir disekitar obyek wisata ini. Ada suatu aturan yang cukup unik antar para pedagang tersebut. Mereka memiliki nomer antrian untuk bisa mengantar turis berkeliling melihat kawanan monyet yang ada. Selesai jalan, mereka akan mengajak tamunya mampir di toko mereka dan mencoba menawarkan barang dagangannya seperti kaos, daster, celana, dll. Karena ini adalah giliran mereka, jadi yang lain tidak boleh menawarkan dagangannya. Cukup teratur dan adil, jadi semua dapat giliran mengais rejeki. Oh yah, ibu-ibu ini lebih senang jika para pengunjung mau membeli dagangannya daripada dikasih tips atas jasanya memandu wisatawan.

Untuk berkunjung ke obyek wisata satu ini, wisatawan domestik hanya dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp. 10.000,-/orang dan Rp. 5.000,- untuk parkir mobil. Tertarik untuk mengunjungi obyek wisata satu ini?

Leave a Comment

Your email address will not be published. All fields are required.