Kerajinan ukiran-ukiran khas Bali

Hasil gambar untuk Kerajinan ukiran-ukiran khas BaliDesa Sebatu dan Pujung merupakan desa-desa wisata yang menjadi daerah tujuan wisata yang sangat terkenal dengan kerajinan ukiran-ukiran dari masyarakat desanya. Para wisatawan mancanegara maupun nusantara seringkali berkunjung ke Desa Sebatu dan Pujung dengan tujuan untuk melihat dan membeli hasil-hasil kerajinan ukiran masyarakat setempat yang terbuat dari bahan kayu, yang berupa pohon buah-buahan, bunga-bungaan, patung-patung antik, patung berbentuk binatang, dan lain-lain.

Desa Sebatu terletak di sebelah utara dari desa Tegallalang, yang juga termasuk kecamatan Tegallalang. Sedangkan Pujung merupakan banjar atau dusun yang berada di wilayah desa Sebatu. Desa Sebatu dan Pujung termasuk wilayah kecamatan Tegallalang, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar. Kedua desa tersebut berlokasi di sebelah utara dari ibukota kecamatan Ubud dengan jarak kurang lebih 12 km. Sedangkan jarak dari ibukota propinsi Denpasar menuju desa Sebatu dan Pujung mencapai sekitar 38 km, dan jarak dengan ibukota kabupaten Gianyar berkisar lebih kurang 33 km.

Untuk mencapai desa Sebatu dan Pujung, dapat ditempuh melalui 2 jalur yaitu dari arah selatan melalui desa Peliatan dan jalur kedua dari arah timur melalui Tampaksiring dengan menempuh jarak sekitar 6 km, yaitu melalui jalan sebelah utara Puskesmas Tampaksiring menuju arah barat. Sepanjang jalan dari Tampaksiring menuju desa Sebatu dan Pujung akan dapat menyaksikan panorama alam yang sangat indah dan menawan. Jalur ini merupakan jalur wisata yang seringkali digunakan oleh agen-agen perjalanan yang membawa tamu-tamunya atau rombongan wisatawan. Untuk mengunjungi desa Sebatu dan Pujung sangat mudah karena selain ditunjang dengan sarana jalan yang cukup baik dan juga sudah tersedia kendaraan-kendaraan umum yang berangkat dari terminal Batubulan.

Daya tarik desa Sebatu dan dusun Pujung ini adalah masyarakat desanya yang selain mata pencahariannya bertani juga sebagai pematung. Bila mengunjungi desa Sebatu dan dusun Pujung dari desa Peliatan ke utara, di sepanjang jalan akan terlihat para pematung yang sambil mengobrol sementara tangan mereka sedang sibuk mengukir kayu dengan pisau kecilnya. Selain daya tarik tersebut, di desa Sebatu juga terdapat sebuah tempat persembahyangan atau pura yang tergolong kuno, yaitu Pura Gunung Kawi Sebatu (nama yang sama dengan Pura Gunung Kawi yang berada di Tampaksiring, yang merupakan komplek kuburan Budha). Sedangkan di lingkungan Pura Gunung Kawi Sebatu terdapat sumber mata air di mana penduduk setempat sering datang untuk bersembahyang, juga berfungsi sebagai tempat pemandian dan menggunakan mata air tersebut untuk kebutuhannya sehari-hari.

Mengenai asal-usul keberadaan dari desa Sebatu dan dusun Pujung tertulis di dalam babad “Bhuwana Tatwa Maha Rsi Markandeya”, yang menceriterakan kedatangan Hyang Rsi Markandeya ke Balidwipa, menyebutkan bahwa pada sekitar abad ke-18 beliau mendirikan sebuah tempat persembahyangan atau pura di Tohlangkir. Kemudian beliau menuju ke barat dan mendirikan Desa Sarwada yang sekarang dikenal dengan nama Desa Taro serta mendirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Gunung Raung. Mengingat desa Sebatu berada di sebelah timur yang berbatasan dengan Desa Taro, maka perjalanan Maha Rsi Markadeya dari Gunung Agung (Tohlangkir) menuju Desa Taro harus melalui Desa Sebatu. Seiring perjalanan dan karena semakin bertambah banyaknya pengikut atau pengiring beliau sehingga menghuni wilayah Desa Sebatu. Di samping itu, berdasarkan keagamaan di wilayah desa Sebatu ternyata banyak ditemukan bukti-bukti yang bersifat kuno seperti Lingga yang ada di beberapa pura dan juga upacara-upacara yang dilaksanakan dengan tidak menggunakan Pedanda. Selain itu juga ditemukan bukti berupa tidak adanya Padmasana pada pura-pura yang ada di lingkungan wilayah desa Sebatu yang merupakan suatu ciri-ciri yang dianggap kuno.

Mengenai nama desa Sebatu sendiri, berkaitan dengan ceritera yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu ceritera yang mengisahkan Mayadenawa. Di kala itu terjadi peperangan antara Mayadenawa dengan Betara Indra, di mana Mayadenawa mengalami kekalahan sehingga ia melarikan diri ke utara. Dalam usaha pelarian itu, Mayadenawa masih juga berupaya untuk menghindarkan diri dari pengejaran pihak musuh dengan mengubah dirinya dengan menggunakan ilmu gaib. Mayadenawa berulang kali berusaha untuk merubah dirinya, akan tetapi selalu diketahui oleh musuhnya yang mengejarnya terus. Ketika tiba di suatu tempat, karena Mayadenawa sudah merasa kelelahan serta kepayahan, sementara musuh tetap mengejar sehingga akhirnya Mayadenawa terpeleset kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali “terpeleset” yang berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat tersebut dinamakan Sauh Batu. Dalam masa perkembangannya, kata sauh batu mengalami pemenggalan kata sehingga menjadi kata “Sebatu”. Ada kemungkinan nama Sebatu yang dimaksud pada waktu itu hanyalah meliputi nama Banjar Batu yang sekarang ada.

Leave a Comment

Your email address will not be published. All fields are required.